Rasa yang hilang dan tumbuh kembali.

Sering malu kalau apa yang saya ucapkan tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan.

Misalnya ngomongin pengelolaan sampah namun praktik keseharian di rumah masih belum milah, ngurangin, ngompos, dll. Ngomongin konservasi air, tapi di rumah belum punya lubang resapan, boros air, dll. Ngomongin ketahanan pangan tapi kebun bumbu dan sayur di pekarangan aja gak punya. Duhh…

Yang paling berat ngajarin tanggung jawab ke anak, tapi saya sering abai dan lalai akan tanggung jawab pribadi. Duhh, menjadi teladan memang berat, tapi syukurnya masih diberi kesempatan belajar sambil memperbaiki diri dari rumah dulu. Galang sering kali menjadi juri yang adil dan obyektif akan konsistensi ucapan dan perilaku saya. Misalnya saya membatasinya menggunakan hape, dia langsung protes dengan menanyakan kenapa saya sering megang hape? Pengen ngeles sedang kerja, kok ya gak jujur rasanya 😅

Sejak April 2020 sudah mulai sedekit demi sedikit memperbaiki kekurangan. Mulai dari memilah sampah, ngompos sampah dapur, berkebun diatap, dan membuat lubang biopori untuk resapan air hujan. Tidak semua bisa optimal sesuai teori yang saya pelajari, namun paling tidak ada kemajuan dan pembelajaran.

Panen kangkung kebun di atap.
Panen kompos limbah dapur. Menjadi campuran media tanam #kebundiatap
Sebelum musim hujan tiba saatnya membuat lubang resapan (biopori).

Manfaat terbesarnya bukan sampah terkelola, hemat air, atau kebun yang subur. Tetapi rasa percaya diri yang tumbuh bahwa saya bisa memperbaiki diri meski banyak kekurangan. Capaian-capain kecil yang bisa saya banggakan (bukan kepada orang lain, tapi untuk pikiran sendiri). Sesuatu yang lama hilang dan terabaikan. Mendorong untuk lebih produktif dan terus belajar dan bertumbuh.

Leave a Reply